Powered by Blogger.

Catatan Astri

I read, teach, travel, cook, learn new things, and write it

  • Home
  • My Words
  • IT 'n Science
  • Q-World
  • Oase
  • Let's Go!
    • Life at Enschede
    • Mumbai Story
    • Travelling
  • Ke Dapur
  • None Of Them

CATEGORY >




Kapan hari saat sedang belanja di swalayan, saya melihat kembang kol di rak sayuran, seketika saya teringat rasa makanan ini. Saat course di India, teman-teman dari Palestina yang tidak tahan dengan rasa masakan India memilih memasak atau membeli sendiri daripada mengambil paket catering. Nah, sebagai tetangga, saya sering kebagian mencicipi masakan mereka. Salah satu yang pernah mereka masak adalah makanan ini, disebut maklouba, atau makloubeh, atau maklube. Rasanya nasinya mirip nasi kuning sih, tapi yang membuat unik, karena rasa cauliflowernya menyatu dengan nasi dan membuat 'taste' yang berbeda. Ditambah, ayam yang dicampur didalamnya dan rasa kaldu yang kuat, rasanya memang enak.

Saat bertanya dengan Jehad bagaimana cara membuatnya, Jehad bilang di youtube banyak tutorialnya. Ternyata  maklouba dibuat perlayer dan semuanya dimasak berbarengan dengan si nasi. So, saya jadi penasaran pengen mencoba membuat juga. Karena versi maklouba banyak, jadi saya buat versi saya saja deh hahaha

Berikut adalah bahan yang diperlukan.

1,5 cup beras, cuci bersih
3 ruas kunyit, parut, taruh di dalam ikatan kain/saringan teh

1 buah bawang bombay
250 gr daging ayam cincang
lada hitam secukupnya
1/4 ayam potong kecil-kecil
merica secukupnya
bawang putih 2 ruas
jahe satu ruas
saus tiram 1 sdm
kecap 1 sdm
madu  1 sdm
garam secukupnya

kaldu ayam plus santan secukupnya (resep aslinya hanya kaldu ayam/daging)
2 lembar daun salam (ini juga tambahan versi saya)

Sayuran:
1 buah kembang kol, goreng sampai agak kecoklatan
2 buah terong, potong bundar, goreng sampai agak kecoklatan
tomat, iris bundar

daun seledri untuk taburan
kacang almond untuk taburan (kalau ada)

Aslinya, dimasak dengan api kecil dengan noncoated pan, tapi berhubung saya gak punya, jadi saya memasak menggunakan magic com ukuran kecil. Itu sebabnya pada gambar layer paling atas agak kecoklatan. Karena terlalu panas, layer paling bawah (tomat) overcooked.

Cara memasak
1. Cuci beras, rendam dengan air hangat dan kunyit yang ditaruh dalam ikatan kain atau saringan teh, untuk membuat warna nasi agak kuning. Beras direndam kurang lebih setengah jam.
2. Goreng kembang kol dan terong.
3. Tumis bawang bombay dengan olive oil, masukan daging cincang, lada hitam dan garam, terus ditumis, sampai daging matang dan berubah warna dan merata, tapi jangan sampai gosong.
4. Haluskan bawang putih dan jahe serta merica sedikit, tumis, kemudian masukkan ayam. Tambahkan, kecap, saus tiram, madu dan garam (boleh juga ditambah coca cola) ha ha ha. Ungkep sampai matang dan saus mengental. Jadi ceritanya saya mau bikin ayam panggang coca cola, nah sebagian saya masukkan ke maklouba.  Setelah diungkep, boleh kalau mau digoreng atau dipanggang si ayamnya.
5. Susun maklouba dalam pan/magic com. Urutannya terserah sebenarnya, tapi yang saya lakukan kemaren sebagai berikut:

  • Tomat, yang dipotong dibagian dasar
  • Terong yang sudah digoreng
  • kembang kol yang sudah digoreng
  • Tumis ayam cincang
  • Setengah bagian beras, ratakan/padatkan. Selipkan selembar daun salam.
  • kembang kol
  • terong
  • ayam yang dipotong kecil/kecil (goreng/panggang)
  • ayam cincang
  • setengah bagian beras, ratakan/padatkan. Selipkan selembar daun salam.
  • Masukkan kaldu ayam/santan, ratakan saja sesuai tinggi beras, atau boleh ditambahkan lebih tinggi dari beras sedikit saja (sesuaikan dengan jenis beras).
  • Masak maklouba sampai beras matang.
  • Sajikan dengan membalik maklouba dari pan/magic com pada piring datar.
Taburkan seledri dan kacang almond ( kalau ada, sayangnya nggak ada). Kurang lebih bentuk penampakannya  saat dibuat pekan kemarin seperti ini.


Karena ditambah santan dan daun salam, rasa nasinya jauh lebih enak ha ha ha. Campuran sayuran dan daging saat memasak nasi, membuatnya tidak sekedar nasi kuning biasa. Hmmm jadi pengen coba resep lain, garlic naan sepertinya oke. Silahkan kalau mau mencoba, Oh ya, tutorial cara membuat layernya di youtube banyak ^_^.




Share on:
Her name is Aneesa. She is from Oman. Foto diatas menggambarkan dengan jelas perbedaan karakter kami. Aneesa sangat pendiam, kadang kami sampai tidak sadar ada dia di kelas atau tidak he he he. But she is a good mother. She have 4 kids and everywhere she wears that black abaya. She gave me two of her abaya also, and i love both of them. She can speak Arabic (of course), english and  hindi. So basically she doesn't have problem going around and speak with local people.

Pertemuan dengan Aneesa di India ini termasuk unik dan lucu. Benar-benar skenario Allah yang luar biasa. Pertama, karena Aneesa memulai course agak terlambat. Kami sudah memulai course sekitar 2 pekan saat dia datang. Sepertinya karena ada kesalahan komunikasi sehingga dia tidak menerima informasi mulainya pelatihan. Aneesa memiliki anak bungsu dengan usia sekitar 8 bulan, and guess what, her daughter baby sitter is from Indonesia hahaha. Jadi beberapa kali saat dia chat dengan pengasuh bayinya, saya juga ngobrol dengan si mbak. Dari si mbak, saya juga tahu bahwa Aneesa dan keluarganya menerima dan memperlakukan si mbak dengan baik, seperti keluarga. Plus ditambah versi Aneesa, si mbak sangat menyayangi anaknya. Sebuah contoh yang ideal dari harapan orang-orang yang mengadu nasib di luar negeri.  I will not mention the number but the salary of her baby sitter is higher than my salary :p .

Kebetulan yang kedua, adalah tentang setrika. Seperti yang lain, karena saya dan Pema (peserta pelatihan dari Bhutan) lebih sering explore area di Powai, kami membantu Aneesa dengan menunjukkan beberapa tempat survival. Saat itu saya sedang berusaha mencari setrika baju. Sebelum berangkat ke India, saya sudah hampir membawa pulang setrika mini dari rak etalase toko (beli maksudnya) tapi saya mengurungkan niat karena berfikir, ah masa' sih di India nggak disediakan setrika baju. Dan ternyata tidak saudara-saudara hahaha.

Jadi sebagian besar mereka mengandalkan jasa binatu aka laundry. Laundry di India ini sebenarnya laundry manual. Benar-benar tenaga manusia yang mencuci dan menyetrika baju. Tapi saya tidak tega menyerahkan kain-kain jilbab saya untuk dicuci bapak-bapak dan mas-mas yang mencuci dengan tenaga ekstra. Khawatir kain-kain tipis itu tidak sanggup menerima kekuatan tangan mereka. Jadi saya mencuci sendiri dan menjemur di balkon kamar hostel hampir setiap hari. Masalahnya adalah menyetrika. Sekuat apapun saya berusaha berhati-hati agar baju tidak terlalu kusut saat dipakai dan dijemur, tetap saja, saya memerlukan setrika baju. So mulailah hunting setrika. Dan tidak tahu kenapa, proses hunting setrika ini begitu rumit. 

Membeli secara online ternyata item yang saya inginkan perlu berhari-hari untuk sampai. Mencari di Haiko, D-mart maupun pertokoan Galleria, tidak dapat. Bahkan saya pernah memasuki hampir semua toko elektronik di R-City Mall untuk mencari setrika. Saya ingin setrika yang kecil, yang memang untuk travelling. Kalau setrika normal, tentu sampai di rumah nanti akan jadi useless, karena di rumah saja sudah ada dua.

Dan suatu hari, kami mengajak Aneesa ke Powai plaza, sekedar mencoba siapa tahu ada setrika di sana. Ternyata masih nihil. Powai Plaza lebih mirip kompleks perkantoran daripada pertokoan. Sepulang dari Powai Plaza, alih-alih naik bajaj, kami berjalan kaki dan mampir di Galeria. Pema sempat iseng bilang, sudahkah bertanya di toko-toko disini semua, dan saya jawab sudah. Aneesa kemudian bertanya, sebenarnya saya mencari apa. Ketika saya jawab mencari setrika, dia tiba-tiba berseru, Hey, aku punya setrika! hahaha.

Dan berakhirlah pencarian setrika hari itu. Saya lupa hari apa. Tapi itu juga hari yang sama kami mencoba restauran halal di lantai 2 Galeria. Kami juga merekomendasikan restauran itu ke teman-teman muslim yang lain. Sejak saat itu, setiap pegawai Dawaat melihat wajah kami di lantai 2, mereka tahu, kami pasti akan memesan sesuatu disana, Garlic naan dari Dawaat restaurant is the best. 

Malamnya, saya dan Pema, setelah makan malam, pergi ke kamar Aneesa untuk meminjam setrika bajunya. Dan inilah penampakan setrikanya.


Saat itu juga kami iseng memeriksa tulisan di setrika, dan ternyata setrika itu MADE IN INDONESIA ha ha ha. Ah sebuah skenario yang tidak disangka-sangka. 



Perlu ribuan kilometer, Aneesa tergerak untuk berangkat shortcourse, mencari setrika berhari-hari dan tidak dapat, untuk bertemu orang Indonesia yang ingin meminjam setrika Made In Indonesia. Dan pada akhirnya Aneesa memberikan setrika itu sebagai hadiah untuk orang Indonesianya. Thank you Aneesa.

Sejak saat itu, setrika lebih banyak ada di kamar saya. Sesekali beberapa teman juga menggunakannya. Jadi sebenarnya pemakai setrikanya tidak cuma saya, semoga dicatat sebagai amal jariyah Aneesa ^_^ . Saat akan pulang, saya menghibahkan setrika itu, selain akan lebih bermanfaat, juga karena setrikanya 1000 watt, dan listrik di rumah saya cuma 900 watt hahaha.

By the way, thank you so much Aneesa, this little story between us really tell me how beautiful Allah make every story in our life. Sometime we just need to be more patient.
Share on:
Kenapa India?
Mau Berangkat lagi?
S3 ya, berapa tahun?
Ngapain ke India?
Mau ketemu Shahrukh Khan?
Salam ya buat Shaheer Sheikh
India itu Gak Aman buat perempuan
India itu Kotor
Hati-hati ya kalau berangkat
Apa nggak ada negara yang lebih bagus?
Wah mau ke Taj Mahal ya
Jangan lupa beli sari ya
Mau jalan-jalan ya
Makanan India itu gak enak
Lah India kan negara miskin, ngapain kesana, mending ke Eropa

Yup, kalimat-kalimat di atas yang muncul ketika orang-orang tahu bahwa saya akan ke India. Ngapain sih jauh-jauh kesana hahaha. Sampai sekarang, saya juga  gagal paham, kenapa saya iseng mendaftar beasiswa ke India. Saya anggap skenario yang saya lakoni, pasti yang terbaik versi Allah ^_^.



Okey, tell the truth, saya mendaftar beasiswa ke India untuk aktifitas liburan. Kenapa India? karena yang saat itu aplikasi beasiswanya buka ya India. Beasiswa pelatihan ke India ini buka sepanjang tahun. Selama kalender akademik pelatihan berjalan. Akan tetapi, biasanya lebih cepat mendaftar akan lebih baik. Untuk setiap tempat pelatihan, satu pelatihan, kuota peserta dari tiap negara adalah dua orang. Namun, masih sangat mungkin jumlah tersebut bertambah atas permintaan Koord ITEC di tempat pelatihan, contohnya pada batch pelatihan yang saya ikuti, ada 4 orang yang berasal dari Tanzania.

Saya tidak sengaja menemukan link beasiswa ini saat mencari informasi tentang tempat pelatihan di Belanda. Saat itu, saya fikir mungkin beasiswa ini akan berakhir tahun 2014 karena beasiswa ini muncul karena adanya Technical Cooperation Scheme dari Colombo Plan. ITEC sendiri merupakan singkatan dari Indian Technical and Cooperation Programme dan SCAAP adalah Special Commonwealth Assistance for African Programme. Ada banyak negara yang masuk dalam kategori ITEC dan untuk negara-negara di Afrika, kesempatan khusus ditambahkan dengan skema SCAAP. Webnya bisa ditelusuri di alamat http://itec.mea.gov.in/. Untuk  pelatihan apa saja yang diadakan pada tahun  2015/2016 bisa dilihat di training brochure pada link berikut atau dengan pilih kategori di courses web itec,mea.gov.in.

Ada banyak pelatihan yang dapat diikuti. Variasi pelatihan mulai dari 2 pekan sampai dengan 3-4 bulan. Bidang yang ditawarkan :
1. Accounts, Audit, Banking and Finance Course
2. Environment and Renewable Energy Course
3. IT, Telecommunications and English Course
4. Management Course
5. SME/Rural Development Course
6. Specialied Course
7. Technical Course
8. Technical Cooperation Scheme for Colompo Plan (spesial untuk anggota Colombo Plan).

Dan yang perlu diingat India itu bukan hanya Taj Mahal, Agra atau New Delhi, lokasi pelatihan bervariasi, dari ujung utara ke selatan, barat ke timur India, India jauh lebih besar dari Indonesia. Aturan pelatihan tidak mengijinkan Anda keluar dari kota tempat lokasi pelatihan untuk alasan keamanan. Sepertinya karena banyak yang dulu pernah diijinkan pergi, ternyata peserta tidak kembali ke tempat pelatihan. Untuk keluar dari kota tempat pelatihan, ada banyak ijin yang diperlukan, dari kementrian di India juga kedutaan di Indonesia. Umumnya setiap tempat pelatihan akan menyediakan paket tour wisata (yang agak jauh) untuk peserta pelatihan.

Saat mendaftar, saya merasa tingkat persaingan juga tidak terlalu tinggi. Mungkin karena saat itu periode 2015/2016 baru dibuka, saya mendapatkan nomor urut 3 untuk peserta dari Indonesia. Sistem pendaftaran beasiswa disini adalah mendaftar di Kedutaan India atau di Konsulat India. Jadi kita tidak mendaftar beasiswa langsung ke lembaga pelatihan di India. Aplikasi pendaftaran dilakukan secara online dengan sistem yang mereka buat.

Link untuk pendaftaran di Indonesia dapat dilihat keterangannya pada tautan berikut  Setelah Anda merasa yakin apa saja yang perlu disiapkan dan jenis pelatihan apa yang akan diikuti, link  ITEC aplication form di website kedutaan  akan mengarah ke website untuk pendaftaran yaitu https://itecgoi.in/meaportal/homepage. 

Persyaratan umumnya untuk mendaftar beasiswa ITEC/SCAAP adalah.
1. Orang yang bekerja di pemerintahan, private and public sector, universitas, parastatals, universitas, chambers of commerce and industry.
2. Pengalaman kerja 3-5 tahun.
3. Usia 25-45 tahun.
4. Sehat secara fisik.

Selain itu, di training brochure akan ada persyaratan khusus untuk masing-masing jenis pelatihan yang diikuti. Selain itu, peserta harus menunjukkan kemampuan untuk berbahasa Inggris dengan baik. Tidak disebutkan score berapa yang diperoleh, namun setidaknya Anda diminta untuk dapat berbicara dan menulis dengan baik. Tapi jangan terlalu khawatir, setidaknya karena disini, hampir semuanya berbicara dalam bahasa Inggris dengan logat masing-masing. Ada English gaya Hindi, yang rasanya sebagian besar orang Indonesia paham karena terbiasa dengan film India, ada versi arabic, versi afrika dan lain-lain.

Mekanisme pendaftarannya adalah.
1. Kita mendaftar secara online di link https://itecgoi.in/meaportal/homepage https://itecgoi.in/meaportal/homepage.
2. Mencetak aplikasi, tanda-tangani oleh orang yang berwenang.
3. Kirimkan ke Kedutaan India di Rasuna Said Kuningan atau Konsulat terdekat (Bali dan Medan)
4. Tunggu proses seleksi, dari Ministry of State Secretariat  kemudian nantinya jika terpilih, pihak Ministry akan menginformasikan ke Embassy untuk hasil tersebut.
5. Embassy nantinya akan menghubungi Anda untuk tahapan pengurusan ijin, visa dan seterusnya.


Apa saja yang diperlukan dan tahapan untuk pendaftaran.
1. Pilih jenis course yang diinginkan dari training brochure.
2. Perhatikan tanggal course, MENDAFTARLAH 2-3 BULAN sebelum pelatihan dimulai.
3. Create account di aplikasi pendaftaran online.
4. Print aplikasi pendaftaran (hasil aplikasi online),  mintalah tanda tangan atasan sesuai tingkatan pekerjaan Anda. Saat mendaftar saya menggunakan rekomendasi dari Dekan.
5. Siapkan juga nilai untuk tes TOEFL maupun IELTS. Kalau anda memiliki sertifikat terpisah, lampirkan saja sertifikat tersebut, isikan nilainya di form aplikasi.
6. Siapkan apa saja yang diperlukan untuk tes kesehatan.
Saat mendaftar saya mendapatkan rekomendasi dari teman, dr Susi, yang menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unila. Kebetulan, beliau bekerja di Klinik Imam Bonjol. Sebenarnya, katanya, pernyataan sehat yang dikeluarkan Puskesmas pun cukup. Untuk alasan profesi, meski kenal, dr Susi meminta saya untuk test sesuai dengan permintaan di form aplikasi. Saya pun melakukan tes untuk hepatitis, gula darah sebelum dan sesudah puasa, dan rontgen. Kalau sangat khawatir dengan kondisi di India, Anda bisa melakukan vaksinasi hepatitis sebelum berangkat. Peserta dari negara yang tertentu ada yang wajib melampirkan pernyataan bebas dari hepatitis. Yang jelas institusi yang mengeluarkan pernyataan sehat memiliki stempel yang sah dan dokter dengan izin praktek.
7. Buatlah CV untuk aplikasi beasiswa.
Lampirkan ijazah terakhir dan surat kontrak atau SK bekerja (tidak diminta namun untuk lebih meyakinkan)
8. Kirimkan berkas ke Kedutaan (Jakarta)atau Konsulat India (Bali, Medan).
9. Aplikasi beasiswa online hanya akan diproses, jika berkas aplikasi hardcopy Anda sudah diterima Kedutaan India atau Konsulat.

Seluruh tahapan proses akan diinformasikan melalui notifikasi ke email Anda. Saat mendaftar, sepekan kemudian berkas saya kirim ke Kedutaan. Proses sampai dengan diterima juga tidak sampai satu bulan. Kepastian diterima adalah saat Anda menerima email berisi award letter dari Kedutaan India.


Saat menerima award letter, pihak Kedutaan akan memberi informasi pengurusan visa. Karena masuk dengan status pelatihan, nantinya aplikasi visa yang diperlukan adalah visa student. Detail untuk urusan visa akan saya tulis dalam postingan terpisah. Pelatihan ini akan mencover hal-hal berikut.
1. Biaya visa (lumayan euy 900 ribuan untuk visa student).
2. Biaya tiket pesawat pulang pergi kelas economy.
3. Biaya pelatihan.
4. Akomodasi (hostel/penginapan), AC dan fan, fasilitas bervariasi.
5. Living allowance, 25 000 Rupee / bulan. Dengan kurs sekarang, sekitar 5 juta rupiah. Nah dari biaya ini nantinya akan dipotong untuk biaya makan (disediakan catering), saat ini di Mumbai biayanya sekitar 250 Rupee/hari (sekitar 50 ribu), anda dapat breakfast, makan siang, makan malam, snack, dan dua kali tea break.

Lokasi pelatihan CETTM, Powai, Mumbai

CETTM Hostel, just accross the road of CETTM Building


So far, saya merasa pelatihan ini menyenangkan. Saya memilih course Database Management dan Web management karena bertepatan dengan liburan semester, ilmunya saya perlukan dan tempatnya saya rasa menyenangkan. Khusus di CETTM ini, tempat pelatihan dan hostel hanya berseberangan. Jadi tidak memerlukan alat transportasi apapun. Teman saya dari Nepal yang pelatihan dengan beasiswa ini di New Delhi pernah bilang, kalaupun tempatnya agak jauh, disediakan alat transportasi khusus dari hotel ke tempat pelatihan.

Hmm.. Anda minat mendaftar?
Share on:
Saya cuma punya dua kata buat menggambarkan semester genap 2014/2015 tahun ini... LUAR BIASA..

Kalau semester kemarin, reviewnya tentang apa yang dilakukan di semester tersebut, maka tulisan ini akan berisi hmmm momen-momen yang patut didokumentasikan , ada yang menyenangkan, ada yang (dulu ) mengesalkan, bikin emosi naik turun dan seterusnya. Sebagian besar terjadi karena tingkat konsentrasi saya yang memang akhir-akhir ini parah. Kurang melatih multitasking, sehingga terjadi hal-hal unik yang jelas jadi kenangan. Saya tidak melihat kejadian-kejadian yang akan saya sebutkan sebagai kesialan, setelah difikir-fikir yang terjadi adalah hal-hal yang bisa jadi kenangan yang lucu. Katanya tertawa itu obat terbaik (menghibur diri).

Salah satunya pelupa. Riska sering sekali kecewa kalau ngajak saya ngobrol di chat, dia tulis kapan eh dijawab bisa besoknya atau besoknya lagi. Itu berlaku di WA, di message FB maupun BBM. Salah kirim email, salah kirim sms, salah forward sms juga pernah terjadi. Malah kadang, chat sama siapa, eh nulisnya ke siapa he he he. Nah beberapa yang saya tulis ini adalah yang menurut saya agak parah.

1. Beli pulsa telpon sejuta.
Berapa maksimum pulsa telpon yang pernah Anda beli? Nah awal semester kemarin saya berkesempatan menghabiskan isi rekening gaji saya dengan membeli pulsa telpon. Saat memilih nominal angka pada tahapan internet banking, saya tidak memperhatikan jumlah angka nol. Perasaan sih itu hanya seratus ribu. Dua hari kemudian, saya merasa Indosat sedang bercanda dengan memberi saya info pulsa telpon sebanyak 950 ribu. Saat memeriksa history transaksi, oo ow.. ternyata salah klik pilihan angka nol. Setidaknya dengan begitu, saya membuktikan bahwa saya bisa jualan eh lebih tepatnya sedikit memaksa dan memohon orang-orang di sekitar saya untuk membeli pulsa dengan cara mentransfer nominal pulsa ke sesama Indosat. Terutama buat Dani, yang jadi konsumen utama yang terpaksa ikhlas, bersedia membeli pulsa, thank you very much deh

2. Jatuh dari motor.
Mengingat kejadian jatuh ini, saya tidak habis fikir. Kecepatan normal, dan sebenarnya saya dan orang yang di jalan sama-sama menghindar. Si kakek dan cucunya menghindar ke sisi kanan, saya menghindar ke sisi kiri. Jatuhnya sih sama seperti jatuh yang lain hahaha sakit. Posisi kaki saya tertimpa motor Vario yang lumayan beratnya mulai dari mata kaki ke telapak kaki. Setelah si kakek dan anaknya berusaha keras mengangkat motor pun, saya tidak sanggup bergerak, saya duduk cukup lama di jalan Perumahan Kampung Eldorado sampai akhirnya ada ibu-ibu yang membantu saya berdiri.

Melirik kaki sambil nyengir, feeling saya langsung bilang, aduh pasti terkilir nih.. Dan saya tidak sempat meringis kesakitan, karena si Kakek, berkali-kali bilang ke saya, telpon suaminya mbak, suruh jemput saja. Beliau juga menasehati supaya tidak apa-apa telpon, pasti suaminya mengerti  Aduh Kek, saya mesti jawab apa, akhirnya saya cuma tertawa.. Padahal saat itu ada seorang Ibu yang sedang,mengurut kaki saya di tempat (padahal beliau bukan tukang pijat haha bayangkan rasanya) dengan balsem.

Dan pada kenyataannya, hasil dari jatuh itu, Alhamdulillah..hanya bagian tersebut yang cedera. Ada lecet sedikit di jari pun tidak terasa, karena sakit di kaki lebih mendominasi. Sampai di rumah, setelah dijemput, keponakan saya dengan santainya menirukan saya yang turun dari mobil dan melompat-lompat dengan satu kaki.. Aku bisa Amah, aku bisa.!!! dan dia pun keliling rumah dengan menirukan saya melompat-lompat. Ya ampun nak, ini bukan sedang main taplak.


Efek terkilirnya ternyata lumayan, lebih dari sepekan, saya harus mengandalkan dua benda ini untuk beraktifitas, termasuk ke kampus.

Yang pernah ke kampus Unila tentu tahu, fasilitas untuk orang difable sangat kurang, naik turun tangga, pindah kelas, pindah gedung dan seterusnya membuat si kaki tidak bisa sembuh dengan cepat. Dan dengan pede-nya saat itu saya menerima menemani mahasiswa studi lapangan ke Jogja hahaha dengan fikiran mungkin saat itu sudah sembuh. Alhamdulillah, meski dengan kecepatan yang seadanya, si kaki bisa dibawa dari Parangtritis, Beringharjo dan juga masih jalan keliling Borobudur.

3. Daftar beasiswa pelatihan ke India
Saya nyengir, waktu Riska menelpon saya dan bilang, ya ampun mbak, waktu kamu itu bener-bener dimanfaatkan dengan baik ya, digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Ha ha ha that's not the real story untuk beasiswa pelatihan ke India ini.

Jadi cerita singkatnya, untuk liburan semester genap, saya sudah menyiapkan planning pekerjaan, tracer alumni, borang akreditasi dan seterusnya. Tapi, rencana tinggallah rencana hehehe Allah lebih tahu rencana terbaik. Apa yang saya inginkan, tidak sejalan dengan apa terjadi. Mungkin memang ada orang-orang lain yang lebih berhak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Meski ada rasa marah, karena tidak disampaikan sejak setahun lalu (berarti memang harus belajar ikhlas untuk pekerjaan setahun terakhir), rasa kecewa juga ada, mungkin saya dianggap belum memiliki kapasitas yang sesuai dengan  harapan, mungkin saya masih harus belajar lagi. Saya belajar banyak dari orang-orang lain yang kerap bertanya  dan konsultasi dengan saya selama ini.

Yang menyedihkan, saya harus belajar lebih diam, saya tidak bisa mengimplementasikan apa yang saya pelajari, pahami dan bahkan sampaikan kepada orang lain, di tempat saya bekerja..whatever.. yang terjadi sudah terjadi. Saat perasaan campur aduk itu, saya menyadari berarti waktu liburan panjang ini saya tidak punya aktifitas utama. Mau jalan-jalan, dana sudah dihabiskan untuk tembok rumah dan tirai pintu jendela ha ha ha, jadi saya teringat pengumuman beasiswa ITEC/SCAAP. Alhamdulillah, prosesnya sangat cepat, saya memilih course yang memang sesuai dengan waktu liburan semester.

Beasiswa ini sudah saya baca sejak sebelum ke Belanda, tapi saat itu sambil lalu, pernah saya share juga linknya di Wall. Di Belanda, seorang teman dari Nepal, Min Kumar Ojha, juga pernah mendapatkan beasiswa ITEC. Dan Desember 2014 saya juga apply beasiswa ITEC (untuk mengisi liburan semester ganjil 2014/2015) tapi tidak ada jawaban dari pihak kedutaan. Itu sebabnya kemudian saya pergi ke Bandung, Dieng, Jogja dan Solo pada saat itu.

Yang mengejutkan, sepekan setelah saya daftar beasiswa, saya langsung mendapatkan reply bahwa saya masuk ke tahap 2 seleksi, tidak sampai dua pekan kemudian, pihak Kementrian India memberikan notifikasi menerima beasiswa. Dan sepekan kemudian Kedutaan India di jakarta mengirimkan email yang berisi surat penerimaan beasiswa. Tahapan pendaftaran beasiswa ITEC/SCAAP ini akan saya buatkan tulisan terpisah.



Ada tahapan panjang untuk pengurusan administrasi, ijin dari Dekanat, Rektorat, pengurusan visa dan seterusnya, tapi pada akhirnya semua berjalan baik.

4. Hectic Ways from Lampung to Mumbai
Empat hari sebelum berangkat, saya full di kampus, menyelesaikan hal-hal yang mungkin bisa diselesaikan. Bimbingan skripsi, TA dan seterusnya. Saat berangkat tidur, saya benar-benar kehabisan tenaga. Yang paling hectic jelas H-1. Berbagai hal dari to do list harus dihapus.

a Hectic Day means..
Tidur hanya 2 jam, berangkat jam 6.20 dari rumah, menunggu di Soetta sekitar 5 jam, berlari di Changi, dari Gate A8 ke antrian imigrasi, ambil koper, lari ke tempat check in Jet Airways, lari ke Imigrasi dan in rush ke Gate A17 dengan skytrain. Dan jam 00. 40 pagi waktu Mumbai (beda 2,5 jam dengan Indonesia berarti 3.20 WIB) akhirnya ketemu dengan kamar hostel.

Alhamdulillah...
All praise to God, rencana Allah selalu baik. Allah menjaga saya untuk tidak emosi berkepanjangan, dan juga menjaga orang-orang di sekitar supaya lebih tenang ha ha ha tukang protesnya pergi jauh, jadi mereka juga bisa liburan.

Saya pengen liburan, gak punya dana, dan Allah memberi kesempatan beasiswa (plus banyak jalan-jalannya) dengan cara ini. Saya juga harus berterimakasih kepada Ibu, yang sekali lagi bersedia ditinggal, team support, keluarga mbak, mbak mila, temen-temen kantor yang ikhlas saya liburan (ditinggal dengan banyak pesanan), pengurus administrasi ijin, mahasiswa bimbingan yang diminta cepat selesai (kalau nggak ganti pembimbing atau tunggu saya pulang September), dan semua pihak yang memudahkan perjalanan ini hehehe.

Check in di Soetta
Semoga, perjalanan 8 pekan di India ini membawa manfaat. Aamiin.

Share on:
Saya bingung, memberi judul untuk postingan ini karena jalan-jalannya cuma sekilas. Tapi, karena sudah direncanakan untuk membuat postingan bersambung, jadi dibuatlah kalimat-kalimat pendeknya. 

Hari kedua di Bandung.
Tadinya mau ikut Oka kuliah sejak pagi, berhubung kuliahnya Oka pagi buta, kuliah jam 7 dan berarti Oka harus berangkat sejak jam 6 pagi dari ujung berung, maka saya memutuskan seperti kemarin, naik angkot ke daerah ITB. 

Sampai ITB, ternyata Oka masih sibuk mencetak tugas dan lain-lain. Padahal rencananya Oka akan menemani ke alun-alun. Akhirnya saya bilang ke Oka, Ka, turunin saja di gedung Sate dan tunjukkan angkot ke alun-alun Bandung. Nanti pulangnya, kalau bisa bareng Oka ya bareng, kalau nggak, berarti pulang lagi ke Ujung Berung naik bis Damri. 

Sampai di depan Gedung Sate, Oka lanjut untuk mengurus tugas kuliah. Saya sempat duduk-duduk disitu, ambil foto dan memotret orang-orang yang pose dengan latar gedung sate hehehe. Kemudian saya sempatkan browsing, tempat apa di sekitar Gedung Sate yang bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Di sebelah Gedung Sate ada Museum Pos Indonesia, lanjut lagi ada Taman Lansia, kemudian jalan terus lagi ada Museum Geologi. Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil, hasil dari jalan-jalan beneran.

Menunggu jalan agak sepi

Museum Pos Indonesia, ramai dengan anak sekolah

Kantor Pos di sebelah Museum Pos Indonesia
Karena ramai anak sekolah di Museum Pos Indonesia, saya lanjut jalan ke Taman Lansia. Pernah melihat fotonya di salah satu tweet atau Fb Ridwan Kamil tentang Taman ini. Sedikit di luar perkiraan, sepertinya Taman kurang terawat. Waktu baru diresmikan, Taman terlihat bagus. Yang sekarang, bersih sih, tapi sepertinya tanaman tidak dirawat dengan baik, atau mungkin belum ditambah. Jika dibandingkan dengan Kebun Bibit Surabaya, jauh lebih hijau dan rapi yang di Surabaya. Taman lansia hari itu dipenuhi anak TK dan beberapa orang yang sedang shooting untuk acara tertentu.
Dilarang jualan, tapi tetap saja ada pedagang :)

Salah satu sisi yang bagus, kalau ada airnya mungkin lebih bagus

From this view, still looks beautiful

Pengunjungnya banyak anak-anak ^_^
Kalau untuk jalan-jalan, taman lansia ini cukup kok buat pegel, Capek memutari jalan setapak jalan kaki, Saya meneruskan ke Museum Geologi. Sayang, tempat tersebut sedang penuh dengan deretan bis berisi anak SMP dan SMA yang karyawisata. Akhirnya saya malah hanya duduk di seberangnya menikmati sepiring Kupat Tahu. Dari situ, saya meneruskan perjalanan ke Alun-alun Kota Bandung. Nggak jalan kaki lho dari situ, bisa naik angkot atau taksi. Karena waktunya shalat dzuhur, saya sekalian shalat di masjidnya. Sempat mencicipi rumput hijau sintetisnya juga, sebelum hujan lebat yang mengusir ratusan pengunjung alun-alun.

Ini foto setelah hujan, Sebelum hujan jauh lebih ramai

Penampakan masjid dari alun-alun

Jalan ke Masjid dari Halte Bis
Sekitar jam 2, karena hujan tidak reda dan ingat sorenya akan berangkat ke Wonosobo, saya menembus gerimis. Naik bis ke Damri arah Cibiru, pulang ke rumah kakaknya Oka. Then next posting tentang Dieng yaaa.


Share on:
Salah satu dampak dari penyakit 'amnesia kronis' saya adalah.. saya lupa pada waktunya SIM harus diperpanjang. Entah karena saya memang pengendara yang baik atau memang saya beruntung, jarang bertemu razia gabungan Polantas, sehingga SIM itu memang jarang sekali keluar dari dompet. Saya baru tersadar, waktu kakak saya memeriksa dompet (entah mencari apa) dan menemukan bahwa SIM saya sudah lewat masa berlakunya, sekitar tiga mingguan lewatnya. Sejak saat itu, hampir setiap hari ibu saya bertanya, sudah perpanjang SIM belum? Dan saya selalu menjawab, nggaak sempat Ma.


Sampai suatu hari, masuklah informasi di whatsapp grup jurusan, pengalaman seorang teman yang menyatakan, SIM yang lewat masa berlaku jangan sampai lewat 3 bulan untuk memperpanjangnya. Karena jika lewat tiga bulan, maka harus membuat SIM baru. Syarat SIM baru adalah tes tertulis 1 jam untuk 30 soal (max salah adalah 8) dan ujian praktek. Jadi saya meniatkan diri, harus mencari waktu menyempatkan memperpanjang SIM sebelum batas 3 bulan habis.

Selain ke Samsat, di Bandar Lampung, kita bisa memperpanjang SIM di Samsat Corner Chandra Swalayan juga di Mobil Pelayanan SIM Keliling. Karena Samsat Corner terlalu menggoda, (maksudnya nggak mungkin ke Chandra cuma perpanjang SIM saja, pasti belanja) saya mencoba hunting jadwal mobil pelayanan SIM keliling. Browsing-browsing   jadwalnya beda-beda, ada yang bilang hari senin ada di Museum Lampung. Dua kali hari Senin, saya lihat nggak ada di depan Museum Lampung. Iseng-iseng saya lihat pengumuman di web, www.ditlantaspoldalampung.web.id, ada kemungkinan mobil di daerah Way Halim setiap hari. Maka hari Kamis kemarin, pas tidak ada jadwal rapat, tidak ada jadwal ngajar, dan tidak jadwal seminar mahasiswa, saya sempatkan mencari mobil pelayanan SIM Keliling. Kalau sampai nggak ketemu di Jalur Dua Way Halim, saya ikhlas kalau memang harus sampai Samsat Corner di Chandra ^_^.

Alhamdulillah, saat menunggu di lampu merah Way Halim, saya melihat mobil itu di halaman Bank BTN.

Nah langkah-langkahnya.
1. Siapkan dokumen dan persyaratan yang diperlukan

  • KTP asli dan fotocopynya 2 lembar
  • SIM asli dan fotocopynya 2 lembar
  • Surat keterangan sehat dari dokter atau puskesmas
  • Uang 75 ribu untuk SIM C dan 80 ribu untuk SIM A



2. Nah, kalau di sekeliling mobil Anda tidak melihat petugas, ketuklah pintu mobil. Petugas akan memberikan formulir untuk Anda isi.

3. Setelah formulir dan kwitansi diisi, serahkan kembali ke petugas, KTP, SIM dan dua fotocopynya juga dikasih. Petugas kemudian akan memeriksa kelengkapan berkas Anda. Untuk Surat Keterangan Sehat, ada beberapa orang yang sudah membawa Surat dari Puskesmas kemarin ditolak oleh petugas, dengan alasan isi pemeriksaannya harus lengkap. Nah, saya sempat bertanya ke petugas. surat yang lengkap itu isinya apa. Si Mbak kemudian menyatakan isi Suratnya harus lengkap :), ada tes buta warnanya juga.

Waktu si Mbak ke mobil, saya sempat memfoto Surat Keterangan Sehat versi si Mbak.


Jadi, pastikan ada tinggi badan, berat badan, tekanan darah, nadi, respirsal dan buta warna. Mungkin setelah itu si Mbak akan menerima Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas atau Dokter yang Anda bawa. Nah, biar nggak bolak-balik, si Mbak dan temannya juga menyediakan layanan untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat disitu. Biayanya Rp.30.000.


Abaikan, jika saat diperiksa, berat badan Anda akan bertambah 10 - 20 Kg, karena timbangan ditaruh di tanah berumput yang jelas sangat tidak stabil. Ada Mas-mas yang nyengir bahagia, karena dia bilang, tadi pagi dia timbang badannya hanya 60 Kg, eh siangnya jadi 80 Kg hehehe. Lucu lagi,  saat ada mbak-mbak yang diukur tekanan darahnya, karena yang mengukur begitu bersemangat, jarumnya sampai lepas dan meluncur bebas ke rerumputan daaan tidak ditemukan hahaha. Terpaksa prosesnya ditunda menunggu Mbak pemeriksanya mengambil alat baru dari rumah.

Buat hiburan sih, karena prosesnya setelah Surat Keterangan Sehat, Anda tinggal menunggu panggilan dari petugas yang ada didalam mobil. Kejadian-kejadian lucu lumayan mengurangi penat karena cuaca yang panas. Mobil ada di halaman Bank BTN yang minim peneduh, jadi kami terpaksa menginjak rumput taman dan mepet ke dinding Bank agar tidak terlalu kepanasan.

4. Setelah dipanggil, Anda bisa masuk ke dalam Mobil Pelayanan SIM Keliling yang adem. Ada dua petugas di dalam. Sambil mengetik data dan memastikan datanya benar, Anda tinggal duduk, diambil foto, sidik jari jempol kanan dan jempol kiri kemudian tanda tangan. Beberapa menit kemudian, SIM baru sudah siap. Eh, jangan lupa bayar Rp. 75.000 ke Bapak petugas ya..


Nah, sekarang gak perlu was-was kalau lihat Bapak Polisi, dan tetap hati-hati berkendara, ikuti aturan berlalu lintas #hehehe.




Share on:
“Menulis itu menenangkan pikiran dan nurani yang nyeri.” 
~ Helvy Tiana Rosa.

Buat saya menulis itu seperti bicara. Seperti halnya curhat yang katanya katarsis jiwa. Apaan sih katarsis? Katarsis adalah salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau dengan kata lain adalah pelepasan kecemasan dan ketegangan yang ada didalam diri seseorang, misalnya dengan curhat atau menulis atau dengan tindakan seperti bersih-bersih hehehe. Saya nulis di blog, itu juga asalnya karena menumpahkan emosi jiwa #halah. 

pic source www.prnewsonline.com

Saya bukan orang yang banyak bicara. Lhaaa situ kan dosen?
Apa jadinya kelas kalau dosennya pendiam.
Iya, saya bicara di kelas, berjam-jam sehari malah. Jumlah mahasiswa di kelas juga tidak sedikit. Ada kelas yang sampai 90 an mahasiswa dalam satu kelas. Kadang jika sedang sangat banyak jam mengajar seharian, sampai rumah, saya bakal jadi pendiaam sekali, karena..saya lelah bicara #dalamartisebenarnya hehehe. Meski, saya bukan orang yang punya bakat berdebat, ada hal-hal yang tidak bisa tidak, harus dibicarakan. Ketika kita menginginkan perbaikan pada sistem dan lingkungan misalnya. Kalau kita tidak bisa membaca fikiran orang lain, maka orang lain juga tidak bisa membaca kemauan dan fikiran kita kan? Jadi mau atau tidak mau, harus bisa disampaikan. 

Soal menyampaikan secara lisan, saya masih harus banyak belajar. Karakter lingkungan sejak kecil yang meledak-ledak, membuat bahasa saya minim basa-basi, kerap konfrontatif tanpa pemanis. Lengkap asamnya jika saat itu ekspresi wajah saya sedang tidak bersahabat. ^_^. Saat menyampaikan isi fikiran dalam bentuk tulisan pun, saya banyak belajar dari rekan-rekan yang menulis baik di status Fb maupun blogwalking. Menulis, berarti membuat jejak. Dan saya belajar membuat jejak yang baik. (Semoga, Aamiin).

Dari teman-teman di sekitar dan yang saya baca di dunia maya, saya belajar untuk menata tulisan. Postingan status dan blog yang galau nggak jelas dikurangi dan dicoba untuk disampaikan secara positif. Menggunakan pengalaman dan rangkaian kata untuk memberikan manfaat, pertama bagi diri sendiri, dan mudah-mudahan bagi orang lain. Tidak perlu memaksakan bahwa semua orang akan menganggap secara positif. Ada satu dua mungkin banyak suara sumbang dan merdu yang akan bilang, misalnya... Ah, cuman jalan-jalan gitu ngapain ditulis, atau sombong amat sih, baru ke Belanda diongkosin aja segitu bangganya, pamer gitu maksudnya, masakan belum tentu enak ngapain di sharing ^_^.

Rasa asem, saat dikritik ini dan itu karena tulisan, rasanya  tidak seberapa saat ada orang yang mendapat manfaat dari apa yang kita tuliskan. Tidak satu dua kali, saya mendapatkan teman dan kenalan baru karena postingan di blog. Saya merasa berbahagia, padahal blog itu tidak saya kelola dengan baik, ternyata masih ada yang membaca. Blog itu masih mengikuti mood pemiliknya yang naik turun, seharusnya saya lebih rutin menulis. Yang mendapatkan manfaat ketika membuat tulisan di blog, sebenarnya saya sendiri. Susunan kata-kata yang dituliskan itu benar-benar dapat mengurangi penat di kepala saya. Kadang, ada hal-hal yang tidak dapat kita  sampaikan dengan curhat, ide dan emosi yang tidak bisa diredam hanya dengan bersih-bersih rumah, memasak atau membuat handycraft. Jadi menulis bisa menjadi salah satu katarsis yang berguna.

Jadi, keep positive.
Jadi, tetaplah menulis. 
Jadi, mohon maaf jika timeline FB atau Twitter Anda akan dihiasi link ke blog saya.
Mudah-mudahan bisa memberi manfaat.

Jadi buat postingan ini kenapa nih?
Hmmm sedang bingung, menulis proposal penelitian dan pengabdian hehehe.
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Hi, I am Astria Hijriani. Now, i live in Enschede, Netherlands until 2018. I works as a Lecturer in Computer Science Department, Lampung University.
  • This blog capture some story from my life, my feeling, my activity and also my mind. You can contact me at astria.hijriani@gmail.com.
Founder of the website

Pageviews

Sparkline

Blog Archive

  • April 2018 ( 1 )
  • March 2018 ( 2 )
  • February 2018 ( 2 )
  • December 2017 ( 2 )
  • October 2016 ( 1 )
  • May 2016 ( 2 )
  • December 2015 ( 2 )
  • November 2015 ( 2 )
  • August 2015 ( 1 )
  • July 2015 ( 1 )
  • April 2015 ( 3 )
  • March 2015 ( 3 )
  • February 2015 ( 1 )
  • November 2014 ( 1 )
  • October 2014 ( 3 )
  • September 2014 ( 1 )
  • June 2014 ( 1 )
  • May 2014 ( 1 )
  • April 2014 ( 4 )
  • March 2014 ( 2 )
  • February 2014 ( 6 )
  • January 2014 ( 9 )
  • December 2013 ( 5 )
  • October 2013 ( 1 )
  • September 2013 ( 1 )
  • August 2013 ( 1 )
  • June 2013 ( 3 )
  • May 2013 ( 7 )
  • March 2013 ( 2 )
  • December 2012 ( 1 )
  • November 2012 ( 5 )
  • October 2012 ( 6 )
  • September 2012 ( 6 )
  • August 2012 ( 5 )
  • July 2012 ( 9 )
  • June 2012 ( 4 )
  • May 2012 ( 9 )
  • April 2012 ( 1 )
  • March 2012 ( 12 )
  • December 2011 ( 7 )
  • November 2011 ( 5 )
  • October 2011 ( 1 )
  • July 2010 ( 1 )
  • November 2009 ( 1 )
  • October 2009 ( 1 )
  • July 2008 ( 2 )
  • June 2008 ( 1 )
  • March 2008 ( 1 )
  • August 2007 ( 2 )
  • July 2007 ( 20 )

Popular Posts

  • Cara Membungkus Kado Bentuk Kemeja
    Ini postingan ringan, barangkali ada yang ingin berkreasi dalam membungkus kado atau bingkisan tertentu. Bentuk kemeja ini lumayan unik dan ...
  • Naik Apa ke Lampung dari Surabaya ?
    Selama jadi anak kost di Surabaya, sering sekali teman-teman bertanya, kalau pulang naik apa ke Lampung? Jawabannya biasanya gini, ya kalau ...
  • Berani Bongkar, Beruntung Bisa Pasang ~ Membersihkan Fan Acer 4732Z
    Liburan lalu, beberapa kali, laptop ini mati tiba-tiba, biasanya pada saat memainkan game yang membutuhkan grafis tinggi. Sempat sangat khaw...
  • Beasiswa Short Course StuNed
    Setiap bertemu dengan orang Indonesia di Enschede biasanya ditanya, -master atau PhD ? terus dijawab, ndak, saya shortcourse saja 3 bula...
  • Yang Mana Yang Berkualitas?
    Saya masih ingat sekali, pelajaran dasar yang diberikan Gem Cheong di kelas Total Quality Management. Gem menampilkan dua gambar berikut di ...
  • Beasiswa Pelatihan ITEC/SCAAP ke India
    Kenapa India? Mau Berangkat lagi? S3 ya, berapa tahun? Ngapain ke India? Mau ketemu Shahrukh Khan? Salam ya buat Shaheer Sheikh India...
  • Operasi Gigi Geraham Bungsu (III)
    Sudah diniatkan ditulis sejak lama, tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang :) eh eh nggak ding, karena mengkambinghitamkan 'm...
  • Operasi Gigi Geraham Bungsu dengan Fasilitas Askes ( I )
    Setahun lalu, melihat hasil foto rontgen panoramik gigi, dokter gigi di Surabaya sudah mengingatkan sejak awal, Mbak..sebaiknya geraham bung...
  • Edisi Jajan dan Cari Oleh-Oleh di Palembang
    Jum'at sampai Ahad, 29 Nov-1 Des kemarin menyempatkan jalan-jalan ke Palembang. Menu utamanya wisudanya Destroyer eh Destri ding, tapi t...
  • Mampir ke Monas
    Ini salah satu mimpi waktu masih kecil, melihat Jakarta dari puncak Monas ^_^.  Dulu, pernah berkunjung ke tempat ini, waktu masih SD ras...

My Tweet

Tweets by @astriahijriani

Do Not think too much, say thanks to Allah for another wonderful day

Even your worst day, that's still 24 hours only


Created By SoraTemplates | By Gooyaabi Templates - copyright 2017 - edited by @hijriani