Powered by Blogger.

Catatan Astri

I read, teach, travel, cook, learn new things, and write it

  • Home
  • My Words
  • IT 'n Science
  • Q-World
  • Oase
  • Let's Go!
    • Life at Enschede
    • Mumbai Story
    • Travelling
  • Ke Dapur
  • None Of Them

CATEGORY >

Salah satu dampak dari penyakit 'amnesia kronis' saya adalah.. saya lupa pada waktunya SIM harus diperpanjang. Entah karena saya memang pengendara yang baik atau memang saya beruntung, jarang bertemu razia gabungan Polantas, sehingga SIM itu memang jarang sekali keluar dari dompet. Saya baru tersadar, waktu kakak saya memeriksa dompet (entah mencari apa) dan menemukan bahwa SIM saya sudah lewat masa berlakunya, sekitar tiga mingguan lewatnya. Sejak saat itu, hampir setiap hari ibu saya bertanya, sudah perpanjang SIM belum? Dan saya selalu menjawab, nggaak sempat Ma.


Sampai suatu hari, masuklah informasi di whatsapp grup jurusan, pengalaman seorang teman yang menyatakan, SIM yang lewat masa berlaku jangan sampai lewat 3 bulan untuk memperpanjangnya. Karena jika lewat tiga bulan, maka harus membuat SIM baru. Syarat SIM baru adalah tes tertulis 1 jam untuk 30 soal (max salah adalah 8) dan ujian praktek. Jadi saya meniatkan diri, harus mencari waktu menyempatkan memperpanjang SIM sebelum batas 3 bulan habis.

Selain ke Samsat, di Bandar Lampung, kita bisa memperpanjang SIM di Samsat Corner Chandra Swalayan juga di Mobil Pelayanan SIM Keliling. Karena Samsat Corner terlalu menggoda, (maksudnya nggak mungkin ke Chandra cuma perpanjang SIM saja, pasti belanja) saya mencoba hunting jadwal mobil pelayanan SIM keliling. Browsing-browsing   jadwalnya beda-beda, ada yang bilang hari senin ada di Museum Lampung. Dua kali hari Senin, saya lihat nggak ada di depan Museum Lampung. Iseng-iseng saya lihat pengumuman di web, www.ditlantaspoldalampung.web.id, ada kemungkinan mobil di daerah Way Halim setiap hari. Maka hari Kamis kemarin, pas tidak ada jadwal rapat, tidak ada jadwal ngajar, dan tidak jadwal seminar mahasiswa, saya sempatkan mencari mobil pelayanan SIM Keliling. Kalau sampai nggak ketemu di Jalur Dua Way Halim, saya ikhlas kalau memang harus sampai Samsat Corner di Chandra ^_^.

Alhamdulillah, saat menunggu di lampu merah Way Halim, saya melihat mobil itu di halaman Bank BTN.

Nah langkah-langkahnya.
1. Siapkan dokumen dan persyaratan yang diperlukan

  • KTP asli dan fotocopynya 2 lembar
  • SIM asli dan fotocopynya 2 lembar
  • Surat keterangan sehat dari dokter atau puskesmas
  • Uang 75 ribu untuk SIM C dan 80 ribu untuk SIM A



2. Nah, kalau di sekeliling mobil Anda tidak melihat petugas, ketuklah pintu mobil. Petugas akan memberikan formulir untuk Anda isi.

3. Setelah formulir dan kwitansi diisi, serahkan kembali ke petugas, KTP, SIM dan dua fotocopynya juga dikasih. Petugas kemudian akan memeriksa kelengkapan berkas Anda. Untuk Surat Keterangan Sehat, ada beberapa orang yang sudah membawa Surat dari Puskesmas kemarin ditolak oleh petugas, dengan alasan isi pemeriksaannya harus lengkap. Nah, saya sempat bertanya ke petugas. surat yang lengkap itu isinya apa. Si Mbak kemudian menyatakan isi Suratnya harus lengkap :), ada tes buta warnanya juga.

Waktu si Mbak ke mobil, saya sempat memfoto Surat Keterangan Sehat versi si Mbak.


Jadi, pastikan ada tinggi badan, berat badan, tekanan darah, nadi, respirsal dan buta warna. Mungkin setelah itu si Mbak akan menerima Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas atau Dokter yang Anda bawa. Nah, biar nggak bolak-balik, si Mbak dan temannya juga menyediakan layanan untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat disitu. Biayanya Rp.30.000.


Abaikan, jika saat diperiksa, berat badan Anda akan bertambah 10 - 20 Kg, karena timbangan ditaruh di tanah berumput yang jelas sangat tidak stabil. Ada Mas-mas yang nyengir bahagia, karena dia bilang, tadi pagi dia timbang badannya hanya 60 Kg, eh siangnya jadi 80 Kg hehehe. Lucu lagi,  saat ada mbak-mbak yang diukur tekanan darahnya, karena yang mengukur begitu bersemangat, jarumnya sampai lepas dan meluncur bebas ke rerumputan daaan tidak ditemukan hahaha. Terpaksa prosesnya ditunda menunggu Mbak pemeriksanya mengambil alat baru dari rumah.

Buat hiburan sih, karena prosesnya setelah Surat Keterangan Sehat, Anda tinggal menunggu panggilan dari petugas yang ada didalam mobil. Kejadian-kejadian lucu lumayan mengurangi penat karena cuaca yang panas. Mobil ada di halaman Bank BTN yang minim peneduh, jadi kami terpaksa menginjak rumput taman dan mepet ke dinding Bank agar tidak terlalu kepanasan.

4. Setelah dipanggil, Anda bisa masuk ke dalam Mobil Pelayanan SIM Keliling yang adem. Ada dua petugas di dalam. Sambil mengetik data dan memastikan datanya benar, Anda tinggal duduk, diambil foto, sidik jari jempol kanan dan jempol kiri kemudian tanda tangan. Beberapa menit kemudian, SIM baru sudah siap. Eh, jangan lupa bayar Rp. 75.000 ke Bapak petugas ya..


Nah, sekarang gak perlu was-was kalau lihat Bapak Polisi, dan tetap hati-hati berkendara, ikuti aturan berlalu lintas #hehehe.




Share on:
“Menulis itu menenangkan pikiran dan nurani yang nyeri.” 
~ Helvy Tiana Rosa.

Buat saya menulis itu seperti bicara. Seperti halnya curhat yang katanya katarsis jiwa. Apaan sih katarsis? Katarsis adalah salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau dengan kata lain adalah pelepasan kecemasan dan ketegangan yang ada didalam diri seseorang, misalnya dengan curhat atau menulis atau dengan tindakan seperti bersih-bersih hehehe. Saya nulis di blog, itu juga asalnya karena menumpahkan emosi jiwa #halah. 

pic source www.prnewsonline.com

Saya bukan orang yang banyak bicara. Lhaaa situ kan dosen?
Apa jadinya kelas kalau dosennya pendiam.
Iya, saya bicara di kelas, berjam-jam sehari malah. Jumlah mahasiswa di kelas juga tidak sedikit. Ada kelas yang sampai 90 an mahasiswa dalam satu kelas. Kadang jika sedang sangat banyak jam mengajar seharian, sampai rumah, saya bakal jadi pendiaam sekali, karena..saya lelah bicara #dalamartisebenarnya hehehe. Meski, saya bukan orang yang punya bakat berdebat, ada hal-hal yang tidak bisa tidak, harus dibicarakan. Ketika kita menginginkan perbaikan pada sistem dan lingkungan misalnya. Kalau kita tidak bisa membaca fikiran orang lain, maka orang lain juga tidak bisa membaca kemauan dan fikiran kita kan? Jadi mau atau tidak mau, harus bisa disampaikan. 

Soal menyampaikan secara lisan, saya masih harus banyak belajar. Karakter lingkungan sejak kecil yang meledak-ledak, membuat bahasa saya minim basa-basi, kerap konfrontatif tanpa pemanis. Lengkap asamnya jika saat itu ekspresi wajah saya sedang tidak bersahabat. ^_^. Saat menyampaikan isi fikiran dalam bentuk tulisan pun, saya banyak belajar dari rekan-rekan yang menulis baik di status Fb maupun blogwalking. Menulis, berarti membuat jejak. Dan saya belajar membuat jejak yang baik. (Semoga, Aamiin).

Dari teman-teman di sekitar dan yang saya baca di dunia maya, saya belajar untuk menata tulisan. Postingan status dan blog yang galau nggak jelas dikurangi dan dicoba untuk disampaikan secara positif. Menggunakan pengalaman dan rangkaian kata untuk memberikan manfaat, pertama bagi diri sendiri, dan mudah-mudahan bagi orang lain. Tidak perlu memaksakan bahwa semua orang akan menganggap secara positif. Ada satu dua mungkin banyak suara sumbang dan merdu yang akan bilang, misalnya... Ah, cuman jalan-jalan gitu ngapain ditulis, atau sombong amat sih, baru ke Belanda diongkosin aja segitu bangganya, pamer gitu maksudnya, masakan belum tentu enak ngapain di sharing ^_^.

Rasa asem, saat dikritik ini dan itu karena tulisan, rasanya  tidak seberapa saat ada orang yang mendapat manfaat dari apa yang kita tuliskan. Tidak satu dua kali, saya mendapatkan teman dan kenalan baru karena postingan di blog. Saya merasa berbahagia, padahal blog itu tidak saya kelola dengan baik, ternyata masih ada yang membaca. Blog itu masih mengikuti mood pemiliknya yang naik turun, seharusnya saya lebih rutin menulis. Yang mendapatkan manfaat ketika membuat tulisan di blog, sebenarnya saya sendiri. Susunan kata-kata yang dituliskan itu benar-benar dapat mengurangi penat di kepala saya. Kadang, ada hal-hal yang tidak dapat kita  sampaikan dengan curhat, ide dan emosi yang tidak bisa diredam hanya dengan bersih-bersih rumah, memasak atau membuat handycraft. Jadi menulis bisa menjadi salah satu katarsis yang berguna.

Jadi, keep positive.
Jadi, tetaplah menulis. 
Jadi, mohon maaf jika timeline FB atau Twitter Anda akan dihiasi link ke blog saya.
Mudah-mudahan bisa memberi manfaat.

Jadi buat postingan ini kenapa nih?
Hmmm sedang bingung, menulis proposal penelitian dan pengabdian hehehe.
Share on:

Kerap kali sesuatu yang direncanakan dengan detail malah tidak akan berjalan dengan baik. Sudah lelah dan panjang membuat itinerary untuk jalan-jalan tidak jarang berakhir dengan dibatalkan atau berganti prioritas pelaksanaan. Maka untuk saya dan Tyas, sahabat waktu saya menuntut ilmu di Surabaya, kadang-kadang improvisasi dan keputusan mendadak itu perlu dilaksanakan. Apalagi untuk kami, yang amat sangat jarang bisa liburan, terpisah pulau dan tidak dekat jaraknya, saya di ujung Sumatera, Tyas di ujung Jawa. 

Perjalanan ke Dieng ini, diputuskan di detik-detik terakhir sebelum berangkat. Tiba-tiba, saya dan Tyas (setelah berkali-kali berubah rencana) membuat keputusan singkat, Ayo bertemu di Dieng! Bahkan saat itu saya yang masih mengunjungi beberapa tempat di Bandung juga berpikir keras, naik bis apa dari Bandung ke Dieng. Saat awal-awal berdiskusi tentang titik pertemuan (Saya di Bandar Lampung dan Tyas tinggal di Surabaya), kami berdua ternyata sama-sama pernah berkunjung di Dieng. Jadi tadinya Dieng bukan merupakan kandidat utama titik pertemuan kami yang hampir dua tahun tidak bertemu. Destinasi favorit kami memang tak sama, Tyas senang naik gunung, saya hanya puas memandang gunung. Tapi pasti ada titik sepakat diantara banyaknya perbedaan, dan kami sama-sama tidak punya argumen untuk pernyataan, Kita bertemu di Terminal Wonosobo ya Yas!

Berbekal browsing dari internet, Oka, teman yang di Bandung, mengantarkan saya ke Terminal Cicaheum. Hujan lebat tidak menyiutkan nyali untuk naik bis malam dari Bandung ke Wonosobo. Membeli tiket bis on the spot , tadinya saya berharap perjalanan di bis berjalan dengan nyaman, bisa beristirahat di bis dan seterusnya. Akan tetapi tantangan selanjutnya, selain pakaian setengah basah dari Bandung ternyata belum selesai. Bis berjalan dengan amat sangat pelan sekali. Lima menit berjalan dan lima belas menit berhenti. Usut punya usut, karena musim hujan, ternyata ada ketinggian air di daerah Rancaekek yang menjadi penyebabnya. Beberapa kendaraan yang nekad menembus banjir, malah mengalami mati mesin dan menambah kemacetan. Selewat jam dua belas malam, barulah bis berjalan dengan normal.

Seharusnya saya sampai sebelum shubuh di Terminal Wonosobo dan menunggu Tyas datang dengan bis dari Surabaya, tapi malah terbalik. Jam delapan pagi, saat saya sampai di Terminal Wonosobo, Tyas sedang santai menikmati Mendoan di salah satu warung disana. Dan saat berpelukan dengan Tyas di Terminal Wonosobo, kami sama-sama tertawa. Allah tahu, saya takut jika sampai duluan ke terminal, sendirian dan pagi buta, jadi dia membuat banjir yang membuat bis saya berjalan seperti siput, dan sampai di Wonosobo saat matahari sudah terang benderang.

Sarapan tempe kemul mendoan ini nikmat sekali

Setelah itu kami mencari angkot yang naik ke Dieng. Meski pernah ke Dieng, kami sama-sama menjadi anggota rombongan, dan duduk manis di mobil sewaan. Jadi hari itu, berbekal bolak-balik bertanya ke kondektur bis, sampailah kami di daerah Dieng. Dan karena berhenti di depan warung Sate Ongklok, dan mendekati jam makan siang, secara otomatis saya bilang ke Tyas, ayo makan  sate dulu yas ^_^.

Ini penampakan sate ongkloknya

Sepanjang jalan, kami banyak ngobrol, maklumlah, sudah dua tahun tidak bertatap muka. Saat menikmati sate ongklok, barulah kami membicarakan mau kemana saja di Dieng, haha, benar-benar unplanned traveling!  Setelah selesai makan siang, kami sempat melihat dua penginapan dan memutuskan untuk menginap di salah satu Hotel yang ada. Setelah membersihkan badan, hujan turun, melengkapi  kondisi badan lelah dan perut kenyang, kami tertidur. 

Saat bangun di sore harinya, kami sempat berjalan-jalan ke kawasan Candi Arjuna dan memutuskan untuk makan malam di Warung Bu Njono. Malam itu Tyas sempat sms ke temannya untuk meminta ditemani ke Sikunir keesokan harinya. Tapi rencana naik ke Sikunir tentatif, kami berdua sama-sama paham, karena datang di musim hujan, dan kondisi hujan yang datang sewaktu-waktu, jika memungkinkan  saja maka kami akan ke Sikunir untuk melihat sunrise. Hari itu juga, saat bertanya dengan Bapak penjaga hotel, kami mendapatkan motor sewaan plus peta jalur ke Sikunir dan beberapa titik wisata lain di kawasan tersebut. Jadi reuni kami akhirnya memiliki rencana. Berikut adalah beberapa hal dan lokasi yang kami lakukan dan kunjungi selama reuni di Dieng.

1. Mengenal lokasi Dieng
Saat pertama datang, kami memang tidak membuat itinerary apapun. Jadi kami gunakan untuk mencicipi kuliner khas Dieng, tempe mendoan dan juga sate ongklok. Ada banyak juga penjual olahan jamur dan manisan carica. Setelah mendapatkan penginapan dan beristirahat, kami berjalan-jalan di sekitar dan menemukan ada jaringan waralaba kebutuhan sehari-hari disana, tempat makan juga cukup beragam, bahkan ATM Bank BRI juga ada. Kami sengaja tidak melakukan aktifitas apapun karena sama-sama kelelahan dan beradaptasi dengan udara dingin. Surabaya dan Bandar Lampung sama-sama daerah panas, maka sampai di Dieng, kami benar-benar harus adaptasi dengan udara dingin. Tidur dengan kaos kaki dan jaket lengkap dan jilbab juga sudah, tapi dingin tetap menggigit. Jika tidak membawa sarung tangan, kaos kaki, masker maupun jaket sekalipun, ada banyak yang menjual dengan harga terjangkau. Waktu itu saya sudah mempersiapkan jaket, tapi saya lupa memasukkan sarung tangan ke ransel, walhasil saya membeli sarung tangan baru di Dieng.

2. Menikmati sunrise di Sikunir
Sebelum tidur, saya dan Tyas membuat kesepakatan, jika sampai jam 4 pagi masih hujan, maka kami urung naik ke Bukit Sikunir.
Jam 4 pagi,
Alarm berbunyi.
Diluar gerimis.
Tyas dengan spontan menjawab...hujan Mbak, saat saya bertanya apakah jadi naik atau tidak. Jadi kami menarik selimut lebih rapat.

Tak lama, telpon genggamnya berdering.
Ternyata Ardi, teman Tyas, benar-benar datang untuk menemani naik ke Sikunir!
Seketika kami segera terbangun dan bersiap-siap. Setelah Shalat Shubuh, meski sebenarnya agak terlambat, kami bertiga, dengan dua sepeda motor menembus kabut dan gerimis ke area Bukit Sikunir. Saat itu saya benar-benar bersyukur, jika tidak ada Ardi, mungkin kami akan tersesat. Jalur ke Sikunir ternyata tidak seperti di peta yang diberikan Penjaga Hotel.

Sampai di Sikunir, hanya tinggal kendaraan yang ramai di parkiran. Pengunjung yang ingin melihat sunrise jelas sudah mulai naik ke Bukit. Saat kami naik, bahkan kami berpapasan dengan pengunjung yang turun. Namun mereka mengatakan tidak melihat sunrise, karena jelas, pagi itu hujan dan berawan. Saat sampai di titik lokasi untuk melihat sunrise, ternyata masih banyak yang bertahan. Dan kami beruntung, kami mendapatkan beberapa saat kemunculan matahari bersamaan dengan ribuan lampu dari pemukiman penduduk di kejauhan.


Sunrise yang tertangkap di Sikunir


Para pengunjung Sikunir yang cantik asyik ber-we-fie ria
Turun dari Sikunir, saya sempat berkenalan dengan seorang wisatawan yang mengambil foto sunrise dengan sangat cantik. Kebetulan sensor lensa kameranya memang berkelas. Wisatawan tersebut dari India, dan saat itu saya sempat bilang, saya ingin berkunjung suatu waktu nanti ke India ha ha ha dan ternyata beberapa bulan kemudian kalimat saya berkunjung ke India benar terwujud. Ah memang benar, ucapan itu doa. Jadi pesan moralnya, berucaplah yang baik-baik.

Cerianya Tyas saat turun dari Sikunir

Di lokasi tempat parkir kendaraan juga ada danau yang sangat cantik. 


Saat turun, barulah saya melihat pemukiman penduduk yang saya lewati. Ternyata kami melewati desa Sembungan, yang diklaim sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. 

Gapura pintu masuk Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa


3. Melihat Telaga Warna dari Ketinggian
Sama-sama pernah melihat telaga warna dari dekat, kami menggeleng saat Ardi berhenti di depan pintu masuk Telaga Warna. Kemudian Ardi mengajak berhenti di titik lain, melewati perkebunan buah Carica dan sayuran untuk melihat Telaga Warna dari ketinggian dan ternyata.. lebih cantik. Saya tidak pernah menyangka bisa menikmati Telaga Warna dari tempat ini.

Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Spot foto favorit di tempat ini, antri untuk foto disitu


4. Memotret Kawah Sikidang
Kami tetap membelokkan motor ke Kawah Sikidang, dengan satu alasan. Mencari sarapan dan minum ha ha ha. Kami juga berjalan mengunjungi kawah yang bergejolak, tapi saya dan Tyas lebih banyak mengambil foto dari sekitar kawah, bukan kawahnya. 

Pintu Masuk Kawah Sikidang

Anak-anak di ketinggian dengan pipi merah dan tertawa didepan kamera

Kawah Sikidang di Kejauhan

Deretan Edelweis dijajakan juga

Kuda ini tak mau kalau menjadi objek kamera

Lucunya kami lupa foto berdua, jadi di setiap foto  hanya ada saya atau Tyas saja :p
Iklan belerang di sekitar Kawah Sikidang

Kami tak tahu siapa, tapi ia berpose, ya klik saja



Setelah menghabiskan dua bungkus camilan, dan karena hari sudah terang, kami mengikhlaskan Ardi untuk duluan pulang. Lebih tepatnya karena kami sudah kelelahan setelah naik ke Sikunir dan melihat Telaga Warna dari Ketinggian, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. 

Camilan ini enak, cobalah kalau Anda ke Sikidang, Jamur Crispy dan Kentang Goreng

5. Jalan-jalan sekitar Candi Arjuna

Siangnya, setelah check out dari hotel, kami menitipkan dua ransel kami ke lobby hotel dan naik motor mengelilingi kawasan Dieng.  Memarkir motor di kawasan Candi Arjuna, kemudian kami menghabiskan waktu mengelilingi Candi dan sekitarnya. 

Menilik peta yang diberikan hotel, seharusnya ada Telaga lain yang ada di sekitar Candi. Namun setelah berkeliling dan bertanya kepada penduduk yang kami temui, jalannya tidak memungkinkan untuk dilewati, maka kami kembali ke areal Candi.

Beberapa areal Candi sedang diperbaiki

Rasanya semua penat semester lalu tak bersisa

Reruntuhannya menyimpan cerita sejarah

Candi Arjuna

Beberapa situs lain di Kawasan Candi Arjuna

Pemandangan bukit hijau dan bunga liar di sekitar Candi Arjuna

Ini juga salah satu lokasi yang tidak ketemu meski sudah ditelusuri
Sampai puas berjalan, kami sempat hanya duduk-duduk di sekitar Candi sambil memperhatikan pengunjung lain yang asyik berfoto. Kami berdua sama-sama sepakat perjalanan kali ini sangat menyenangkan. Meski susah payah, kehujanan, basah kuyup sampai kering lagi di perjalanan, tanpa rencana detil, reuni dadakan ini berhasil. Kami mendapatkan traveling, liburan dan reuni sekaligus. Dan masih banyak titik perjalanan lainnya di Indonesia yang layak untuk dikunjungi. Sepertinya kami bisa merencanakan reuni selanjutnya di Kalimantan atau Sumatera.

Itinerary memang penting, tapi tak cukup hanya direncanakan, cukup masukkan bekal seadanya ke ransel dan berangkat. Kami kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, yang lagi-lagi, kami pilih dengan spontan. Ke Borobudur!


Share on:
Sampai Bandung, pengennya langsung jalan-jalan, ikut Oka ke kampus, dia kuliah terus saya jalan-jalan. Ternyata waktu dia siap berangkat kuliah, badan saya tidak mau diajak kompromi. Sempat tertidur selama satu jam, setelahnya saya sempat browsing kira-kira mau jalan kemana. Jam 12 siang, baru saya siap pergi dari rumah kontrakan kakaknya Oka. Akhirnya, berbekal petunjuk dari kakaknya Oka, saya naik angkot ke ITB.

Ini kedua kalinya saya ke Bandung. Tapi sebelumnya, ngikut aja mau dibawa kemana hehehe. Jadi cuma dikasih petunjuk naik angkot dan pergi sendiri itu prestasi buat saya. Bahkan bertahun-tahun tinggal di Bandar Lampung pun, saya hampir gak pernah naik angkot, akibat penyakit ndeso saya yang pusing kalau naik kendaraan roda empat. Alhamdulillah, meski sempat dioper angkot sekali, salah belok jalan sekali, dari area Ujung Berung, saya berhasil sampai ke daerah ITB dan ketemu Oka di depan lokasi parkir ITB.

Hujan agak deras dan perut lapar, membuat kami akhirnya mampir ke kantin, beli makan siang. Dan diputuskan, siang itu berangkat ke Lembang, menuju Kebun Bunga Begonia.  Dari daerah ITB, kami naik angkot Cicaheum-Ledeng. Dari Terminal Ledeng naik angkot Ciroyom-Lembang kalau nggak salah atau Stasiun Hall-Lembang. Sampai Lembang, karena masih gerimis, dan tidak menemukan angkutan desa yang seharusnya lewat, kami memilih naik andong. Dan sampailah kami di Kebun Bunga Begonia.

Disambut tukang parkir yang ramah, kami menuju gubuk kecil tempat penjual tiket. Harga tiketnya 5000 rupiah saja per orang. Murah kan? Yang mahal adalah tiket masuk untuk kamera DSLR, 50.000 (Lima puluh ribu rupiah) per kamera. Kamera pocket dan kamera hape masih gratis. Meski mendung, deretan bunga yang ada tetap cantik dan menarik. Selain bunga, ada juga area untuk sayur mayur di tempat ini. Restoran juga disediakan. Kebun bunga begonia ini dibuka dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam.  Berikut adalah beberapa hasil foto dari taman bunga Begonia.



Kalau cuacanya cerah dengan langit biru, pastinya bunga-bunga ini terlihat lebih cantik lagi. Lokasinya memang tidak luas sekali, tapi ditata dengan cantik dan ditambah tema-tema tertentu. Kebetulan kami datang menjelang libur imlek, jadi nuansa imlek dengan lampion dan tatanan warna merah ada di beberapa sudut kebun bunga ini.











Selain bunga, ada juga space untuk sayur mayur. Hari itu, kebun bunga Begonia panen tanaman kembang kol. Sepertinya kalau bawa anak kecil dan diberi pengenalan tentang macam-macam sayur, tempat ini cukup menarik hehehe. 



Kami beranjak dari Kebun Bunga Begonia, saat kabut turun, jam setengah lima, cuma kabut putih yang terlihat dimana-mana. Bahkan dominasi merah warna tanaman begonia pun diselimuti warna putih.


Last shot before go home
 Meski tidak lama di tempat ini, suasana cantiknya cukup membuat fresh. Dan kami-pun pulang menuju parkiran ITB lagi (karena motor Oka diparkir disana) dengan rute yang sama. Bedanya, kami tidak naik andong, tapi ada angkot yang lewat menuju Pasar Lembang, ongkosnya 3000 rupiah. Oh ya, ini website resmi dari Kebun Bunga Begonia. http://www.kebunbegonia.com/ .



Share on:
Jalan-jalan ini bisa disebut asal. Orang yang kenal saya, mungkin tahu, setiap merencanakan jalan-jalan saya bakal membuat itinerary detail, mau naik apa, mau kemana saja, nginep dimana, tempat apa yang menarik dan lain-lain. Kalau sempat bahkan survey sekalian tiket perjalanan termurah dan lain-lain. 

Tapi yang ini beda. Karena terpending lamaaaa pengen liburan untuk urusan kantor, dan kalau direncanakan liburannya selalu gagal, maka..kali ini, begitu kondisi mahasiswa bimbingan tugas akhir dirasa bisa ditinggal sepekan, saya langsung pesan tiket ke Bandung. Kalau ditanya pulangnya kapan dan naik apa, saya nggak bisa jawab. Karena memang belum direncanakan mau jalan sampai kemana apalagi pulang naik apa hehehe.

Dan pada akhirnya, rute jalan-jalannya lumayan. Bandar Lampung-Bandung-Wonosobo-Dieng-Jogja-Borobudur-Parangtritis-Solo-Soetta-Branti. Kurang lebih 1867km dan jalan-jalan kali ini benar-benar membuat sandal saya harus istirahat.



Hampir semua mode transportasi dicoba, bus, kapal, kereta api dan pesawat. Berhubung jalan-jalan hemat, gak ada aktifitas belanja-belanja, satu-satunya bis yang agak mendingan adalah bis damri kelas royal untuk perjalanan Bandar Lampung-Bandung.  Sengaja ambil royal class karena sudah diprediksi, hari senin pasti hectic dan kelelahan di kantor. Supaya  hari Selasanya bisa langsung jalan-jalan (rencananya).

Oh ya saya sempat capture tarif bus damri dari Lampung untuk berbagai tujuan.



Perjalanan Bandar Lampung- Bandung cukup lancar. Sayangnya saat di menyeberang ke Merak, saya yang berharap bisa beristirahat di kapal, ternyata salah memilih ruangan. Berharap bisa beristirahat di ruang VIP malah tidak bisa tidur sama sekali, karena ruang tersebut bersebelahan dengan ruang karaoke dan orgen tunggal yang gegap gempita sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, jam 5.30 pagi, saya bisa sampai dengan selamat di Bandung. Malam sebelumnya, saya sudah kontak Oka yang sedang kuliah di Bandung, dan Oka sangat berbaik hati mau menjemput saya di pool damri Bandung. Nah, posting selanjutnya akan berisi bercerita tentang tempat-tempat yang sempat dikunjungi.

Share on:
From sofestive.com 
Yeaay, ini postingan pertama di tahun 2015. Entah kenapa, sejak saya membuat blog ini di pertengahan tahun 2007, selalu saja tidak pernah bisa posting di awal tahun. Tulisan di blog archive Januari  2014 cukup banyak karena aslinya tulisan itu dibuat di bulan Mei 2014 hehehe. Jadi postingan random hari ini akan bercerita hal yang ringan-ringan, seputar campus life as a lecturer.

Semester genap  sampai pertengahan  2014 memang cukup padat, karena saya meninggalkan kelas setengah semester untuk shortcourse di Belanda. Empat Mata kuliah diampu tandem dengan dosen lain, tapi  ada satu mata kuliah harus saya laksanakan dengan beban dua kali lipat karena saya sendirian mengampu kelas tersebut.

Saat ini semester ganjil 2014/2015 yang dilaksanakan sampai januari 2015 baru saja usai, Alhamdulillah.. meski cukup melelahkan, akhirnya semester ini  berujung juga. Nah saya akan mencoba merangkum apa saja yang sudah saya lakukan di semester ganjil kemarin. Catatan semacam ini sangat bermanfaat, beberapa kali, saat menulis laporan saya sangat terbantu dengan status facebook, postingan blog atau tweet lama hehehe.

Mata kuliah yang diampu
1. Rekayasa Perangkat Lunak Lanjut D3 Manajemen Informatika
2. Tata Kelola dan Audit Teknologi Informasi S1 Ilmu Komputer
3. Rekayasa Perangkat Lunak S1 Ilmu Komputer, kelas ganjil dan genap
4. Multimedia Lanjut D3 Manajemen Informatika
5. Pengantar Manajemen Organisasi D3 Manajemen Informatika

Total 6 kelas yang diampu. Pekerjaan yang dilakukan secara umum memang memfasilitasi kegiatan belajar mengajar. Namun yang luar biasa adalah jumlah mahasiswa dan apa yang harus dilakukan untuk memfasilitasi kelas sebesar itu.
1. Kelas RPL lanjut, ada sekitar 55 mahasiswa, sistem mata kuliah ini adalah project perangkat lunak, membuat saya harus mendampingi 55 orang yang membuat desain dan aplikasi dengan 55 judul berbeda. Diperiksa satu-persatu di setiap pertemuan :p
2. Kelas Tata Kelola, mendampingi 55 mahasiswa menjadi 6 kelompok yang melakukan audit TI ke 6 instansi berbeda
3. Kelas RPL, ada 80 an mahasiswa yang dibagi menjadi 2 kelas. Dari kelas ini dan kelas RPL Lanjut, ada 10 proposal PKM yang berhasil diusulkan dan didanai untuk tahun 2015
4. Kelas Multimedia Lanjut, dengan 58 an mahasiswa,  mereka membuat project dan menghasilkan 17 game yang dites dan dipamerkan diakhir semester
5. Pengantar Manajemen Organisasi dengan 68 mahasiswa
Sssttt..jangan bilang-bilang, tapi pekerjaan yang paling 'lumayan' adalah koreksi tugas-tugas, quis,uts, uas dan project :p

Selain tugas utama sebagai dosen, diantara waktu jeda di kantor saya harus
a. Menjadi pembimbing 5 mahasiswa KP dari D3 MI
b. Menjadi pembimbing 8 mahasiswa KP dari S1 Ilmu Komputer
c. Menjadi pembimbing 17 mahasiswa TA dari D3, 12 diantaranya telah seminar hasil
d. Menjadi pembimbing dan pembahas 10 mahasiswa skripsi S1 Ilmu Komputer
e. Pembimbing Akademik puluhan mahasiswa S1 dan D3

Dan selain itu..
1. Menjadi panitia kegiatan pengabdian pada masyarakat
2. Publikasi penelitian di jurnal
3. Koordinator TA untuk S1 Ilmu Komputer
4. Kadang-kadang bertugas sebagai Tim penjamin mutu S1 Ilmu Komputer

Ada beberapa rencana yang belum terlaksana pada semester lalu
1. Publikasi yang scopus indexed
2. Serius belajar ngoding lagi
3. Membuat road map penelitian
4. Proposal PhD

Saya yakin, masih banyak rekan-rekan lain yang lebih produktif dari saya namun tetap saja Alhamdulillah.. semester ini mengajarkan saya belajar banyaaak sekali hal, physically and emotionally ^_^ . And now, i really..really need a holiday... Ayooo liburan.



Share on:
Ada kalanya, hari-hari tidak selalu berlalu dengan tenang
I am lucky, i'll never have bad hair day in front of public because of my veil
But sometime the unpredictable things comes to our day in order
Ha ha
Saya tidak ingin menyebutnya sial, lets say, just not lucky

source : http://almadinainstitute.org/blog/


Seperti Selasa lalu,
Sejak pagi, saya sudah menyiapkan slide dan bahan ajar dengan baik
Laptop saya sudah lama tidak mau bekerjasama dengan konektor projector di kelas, jadi saya hanya membawa flash drive
Langkah pertama, saya pinjam laptop mahasiswa
Ternyata, karena ruangan sangat panas saya harus membawa kipas angin sendiri ke kelas
Ternyata, konektor projector juga tidak bersahabat dengan laptop pinjaman
Ternyata, setelah diotak-atik dengan obeng pinjaman lab sebelah pun konektor dinyatakan rusak
Ternyata, setelah projector diganti pun, laptop tidak mau bekerja karena kendala sistem operasi
Ternyata, setelah laptop di tukar dengan yang OS berbayar perlu tambahan terminal listrik
Ternyata, mahasiswa tidak ada yang membawa terminal sehingga balik lagi ke lab mencari terminal listrik
Ternyata, setelah menjelaskan dua slide, tiba-tiba listrik mati...
Ternyata, setelah pasrah menulis materi dengan manual di whiteboard, ada tulisan yang dengan semena-mena menggunakan spidol permanen memenuhi 3/4 whiteboard
Ternyata, setelah susah payah membersihkan whiteboard, saya hanya punya waktu 40 menit untuk menjelaskan materi
#AntaraHarusTetapSenyumDiDepanKelasAtauGaruk-GarukKepala.

Dan hari ini
Saya terbangun dengan migrain di kepala
Saya harus mengantar bungkus N****Sa** ke rumah bawah, dan memasak bekal maksi
Ternyata, motor pertama yang dikeluarkan tidak mau jalan alias mogok
Ternyata, motor kedua yang dikeluarkan dengan susah payah ban nya kempes
Bisa jalan sih ke rumah bawah, tapii..
Ternyata, menemukan fakta galon air mineral habis
Ternyata, harus ke tukang tambal ban dulu
Ternyata, karena tidak hati-hati, kaki lecet kena standar motor
Ternyata, karena tidak seimbang saat sampai rumah, kaki kiri kejatuhan galon yang penuh
Ternyata, beres-beres rumah itu cukup memakan waktu
Ternyata, karena ban motor pertama melindas kain basah, saya tidak bisa memasukkan motor kembali ke rumah
Ternyata, saya harus terlambat saat memulai Quis mahasiswa
Ternyata, saya tidak bisa memenuhi janji ke mahasiswa untuk bimbingan laporan KP sejak pagi
#MenarikNafasPanjang


And.. surprised me
At the end of this hard weekdays
I saw something that made me smile
Saat melihat sekilas hasil ujian mahasiswa...sebagian besar menunjukkan hasil lumayan
Setahun penuh, saya mengulang-ulang materi ini dan tidak semuanya disampaikan dengan nada sabar..
Finally..more than half class show better result..

Itu juga..yang membuat saya bisa bertahan, menghabiskan setengah hari ini, kembali menemani belasan orang yang berusaha menyelesaikan laporannya, meski ada yang mulai dari 50%, 40% bahkan 10 atau 5%..

Peristiwa Selasa, membuat saya harus memiliki lebih banyak persiapan sebelum mengajar, mengasah kemampuan mengajar manual di ruang yang 'hangat', tanpa bantuan LCD atau bahkan laptop. Ada sekian banyak catatan di kepala saya, bagaimana mekanismenya supaya sarana dan prasarana mengajar dapat terawat dengan baik dan diperiksa untuk memastikan bisa dipakai.

Rentetan kejadian hari ini, mengingatkan saya, untuk lebih piawai melakukan manajemen aktifitas harian, tidak kelelahan, juga tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak terlalu penting, tinggalkan yang berat, kerjakan sedikit-sedikit, suatu hari kelak..pasti ada buah manis yang bisa dipetik

Dan saya jadi ingat quote ini
When life gives you lemons, Make lemonade..
or maybe
“When life gives you lemons, give them to me, I love free stuff!”

Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • Hi, I am Astria Hijriani. Now, i live in Enschede, Netherlands until 2018. I works as a Lecturer in Computer Science Department, Lampung University.
  • This blog capture some story from my life, my feeling, my activity and also my mind. You can contact me at astria.hijriani@gmail.com.
Founder of the website

Pageviews

Sparkline

Blog Archive

  • April 2018 ( 1 )
  • March 2018 ( 2 )
  • February 2018 ( 2 )
  • December 2017 ( 2 )
  • October 2016 ( 1 )
  • May 2016 ( 2 )
  • December 2015 ( 2 )
  • November 2015 ( 2 )
  • August 2015 ( 1 )
  • July 2015 ( 1 )
  • April 2015 ( 3 )
  • March 2015 ( 3 )
  • February 2015 ( 1 )
  • November 2014 ( 1 )
  • October 2014 ( 3 )
  • September 2014 ( 1 )
  • June 2014 ( 1 )
  • May 2014 ( 1 )
  • April 2014 ( 4 )
  • March 2014 ( 2 )
  • February 2014 ( 6 )
  • January 2014 ( 9 )
  • December 2013 ( 5 )
  • October 2013 ( 1 )
  • September 2013 ( 1 )
  • August 2013 ( 1 )
  • June 2013 ( 3 )
  • May 2013 ( 7 )
  • March 2013 ( 2 )
  • December 2012 ( 1 )
  • November 2012 ( 5 )
  • October 2012 ( 6 )
  • September 2012 ( 6 )
  • August 2012 ( 5 )
  • July 2012 ( 9 )
  • June 2012 ( 4 )
  • May 2012 ( 9 )
  • April 2012 ( 1 )
  • March 2012 ( 12 )
  • December 2011 ( 7 )
  • November 2011 ( 5 )
  • October 2011 ( 1 )
  • July 2010 ( 1 )
  • November 2009 ( 1 )
  • October 2009 ( 1 )
  • July 2008 ( 2 )
  • June 2008 ( 1 )
  • March 2008 ( 1 )
  • August 2007 ( 2 )
  • July 2007 ( 20 )

Popular Posts

  • Cara Membungkus Kado Bentuk Kemeja
    Ini postingan ringan, barangkali ada yang ingin berkreasi dalam membungkus kado atau bingkisan tertentu. Bentuk kemeja ini lumayan unik dan ...
  • Naik Apa ke Lampung dari Surabaya ?
    Selama jadi anak kost di Surabaya, sering sekali teman-teman bertanya, kalau pulang naik apa ke Lampung? Jawabannya biasanya gini, ya kalau ...
  • Berani Bongkar, Beruntung Bisa Pasang ~ Membersihkan Fan Acer 4732Z
    Liburan lalu, beberapa kali, laptop ini mati tiba-tiba, biasanya pada saat memainkan game yang membutuhkan grafis tinggi. Sempat sangat khaw...
  • Beasiswa Short Course StuNed
    Setiap bertemu dengan orang Indonesia di Enschede biasanya ditanya, -master atau PhD ? terus dijawab, ndak, saya shortcourse saja 3 bula...
  • Yang Mana Yang Berkualitas?
    Saya masih ingat sekali, pelajaran dasar yang diberikan Gem Cheong di kelas Total Quality Management. Gem menampilkan dua gambar berikut di ...
  • Beasiswa Pelatihan ITEC/SCAAP ke India
    Kenapa India? Mau Berangkat lagi? S3 ya, berapa tahun? Ngapain ke India? Mau ketemu Shahrukh Khan? Salam ya buat Shaheer Sheikh India...
  • Operasi Gigi Geraham Bungsu (III)
    Sudah diniatkan ditulis sejak lama, tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang :) eh eh nggak ding, karena mengkambinghitamkan 'm...
  • Operasi Gigi Geraham Bungsu dengan Fasilitas Askes ( I )
    Setahun lalu, melihat hasil foto rontgen panoramik gigi, dokter gigi di Surabaya sudah mengingatkan sejak awal, Mbak..sebaiknya geraham bung...
  • Edisi Jajan dan Cari Oleh-Oleh di Palembang
    Jum'at sampai Ahad, 29 Nov-1 Des kemarin menyempatkan jalan-jalan ke Palembang. Menu utamanya wisudanya Destroyer eh Destri ding, tapi t...
  • Mampir ke Monas
    Ini salah satu mimpi waktu masih kecil, melihat Jakarta dari puncak Monas ^_^.  Dulu, pernah berkunjung ke tempat ini, waktu masih SD ras...

My Tweet

Tweets by @astriahijriani

Do Not think too much, say thanks to Allah for another wonderful day

Even your worst day, that's still 24 hours only


Created By SoraTemplates | By Gooyaabi Templates - copyright 2017 - edited by @hijriani